KANG SANTRI MENGUPAS TUNTAS KAJIAN KEISLAMAN TASAWUF DAN MODERNITAS | Kang Santri >

TASAWUF DAN MODERNITAS

BAB I

PENDAHULUAN

Berbicara tentang tasawuf, sering timbul pertanyaan, benarkah bahwa hidup secara sufi berarti “melepaskan diri dari dunia ?” nampaknya, inilah citra umum tasawuf yang kita miliki jawaban dari pertanayaan ini secara implisit dapat diambil dari pertanyaan Hussein Nasr pada uraiannya tantang “Kedudukan Tasawuf Dalam Islam”. Antara lain dia mengatakan bahwa, “Tasawuf serupa dengan nafas yang memberikan hidup”. Taswuf telah memberikan semangatnya pada seluruh struktur Islam, baik dalam perwujudan sosial maupun intelektual.1

Sikap istimewa kaum sufi adalah dalam memberikan makna terhadap institusi-institusi Islam. Ajaran Islam mereka pandang dari dua aspek, aspek lahiriyah (seremonial) dan aspek batiniah (spiritual) Islam memenuhi keseimbangan antara keperluan badani dan kebutuhan rohani, antara keutamaan dunia dan akhirat.

Bahaya kehidupan serba kebendaan yang kita hadapi dewasa ini telah sampai pada batas yang membahayakan. Salah satu dari pesan Islam pada dunia modern, kata Nasr ialah agar manusia itu mengutamakan sesuatu menurut kepentingannya masing-masing dan memelihara masing-masing unsur sesuai dengan tempatnya serta menjaga proporsi diantara hal-hal yang ada disekitarnya.

Islam memiliki semua hal yang diperlukan bagi realisasi kerohanian. Oleh karena itu, tasawuf merupakan dimensi esoterik dan dimensi dalam dari Islam. Dalam tasawuf, terhadap prinsip-prinsip positif yang mampu menumbuhkan perkembangan masa depan masyarakat. Bahkan, tasawuf mendorong wawasan hidup menjadi moderat. Dalam tasawuf diajarkan bahwa kehidupan ini hanyalah sekedar sarana, bahkan tujuan. Ajaran tasawuf mampu membimbing manusia menjadi hamba Allah yang membawa kedamaian dan mengendalikannya agar tidak menjadi malapetaka bagi dirinya dan alam sekitarnya.



BAB II

PEMBAHASAN


A. Islam dan Masyarakat Modern

Masyarakat modern dewasa ini tumbuh dari pengembangan kebudayaan Yunani purba. Kebudayaan Yunani purba memang punya dasar pikiran yang rasional dan ilmiah. Yang kemudian diolah dan dikembangkan oleh orang Eropa menjadi canggih dan melahirkan kebudayaan barat yang modern.2

Menurut Hussein Nasr, masyarakat modern sering digolongkan “the post industrial society”, yaitu suatu masyarakat yang telah mencapai tingkat kemakmuran material sedemikian rupa dengan perngkat teknologi yang serba mekanik dan otomatis. Tapi walaupun dengan tecapainya tingkat kemakmuran material yang tinggi belum bisa memenuhi kebutuhan manusia seluruhnya,kemajuan yang pesat dalam lapangan ilmu dan filsafat rasionalisme sejak abad ke-18 kini dirasakan tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam sapek nilai-nilai transedental yaitu suatu kebutuhan vital hanya digali dari sumber wahyu Illahi.

Agama islam memiliki semua hal yang diperlukan bagi realisasi kerohanian dalam artian yang luhur, demikian tutur Nasr. Tasawuf adalah kendaraan pilihan untuk tujuan ini. Oleh karena tasawuf merupakan dimensi esoterik dan dimensi dalam dari Islam, ia tidak dapat dipraktekan terpisah dari Islam, hanya Islam yang dapat membimbing mereka mencapai istana batin, kesenangan dan kedamaian yang bernama tasawuf dan hanya Islam yang merupakan tempat mengintai “taman firdaus”. Sekali lagi, inilah cari jalan kontemplatif Islam, atau tasawuf. Ia bisa dipraktekan dimana-mana dan di setiap langkah kehidupan. Tasawuf tidak didasarkan atas penarikan diri secara lahiri dari dunia, melainkan didasarkan atas pembebasan batin, sebagaimana seorang sufi mengatakan : “adalah bukan aku yang meninggalakn dunia, dunialah yang meninggalkan aku”. Penmbebasan batin dalam kenyataan bisa berpadu dengan aktivitas lahir yang intens.

Profil masyarakat modern adalah masyarakat dengan budaya industri, yaitu masyarakat yang mengembangkan cara berfikir ilmiah. Karena masyarakat modern menurut Sutan Takdir Ali Syahbana dalam bukunya “Pemikiran Islam dalam Menghadapi Globalisasi dan Masa Depan Umat Islam” dikatakan lahir dari “Revolusi Ilmu”. Revolusi ilmu melahirkan “Revolusi Teknologi”, revolusi teknologi melahirkan “Revolusi Industri”, dan revolusi industri melahirkan revolusi perdagangan dan komunikasi.3

Revolusi budaya modern yang semakin berkembang hanya berorientasi dengan keduniaan saja, tapi tidak memenuhi kebutuhan spiritual yang masyarakat modern butuhkan.

Sehingga yang bisa jadi pelengkap spiritual budaya modern agar tidak pincang spiritual dan moral adalah Islam yang Qur’ani, yakni Islam yang idealis dan rasionalis yang sangat menghargai ijtihad dan ulama mujtahid sebagai pemukanya, yang diantaranya adalah tasawuf.


B. Krisis Spiritual dan Tasawuf dalam Dunia Modern

Di dunia barat, akhir-akhir ini telah bangkit. Perhatiannya yang besar terhadap tasawuf. Dan terdapat peningkatan signifikan dalam minat terhadap sufisme, terutama di kalangan pendidik. Kebangkitan tasawuf belakangan ini, menimbulkan banyak pertanyaan khususnya di kalangan pengkaji sosiologi, agama dan modernisasi, “mengapa dalam situasi di mana kemajuan ilmu dan teknologi yang kian marak, justru semakin banyak orang tertarik pada tasawuf?”. Kesimpulan singkat yang disampaikan oleh Nais Bitt dan Aburdene dalam “Megatrends 2000” adalah bahwa “IPTEK yang melaju cepat di era modern tidak memberikan makna tentang kehidupan”.

Semula banyak orang terpukau dengan modernisasi, mereka menyangka bahwa dengan modernisasi itu serta merta akan membawa kesejahteraan. Mereka lupa bahwa di balik modernisasi yang serba gemerlap itu ada gejala bahwa di balik modernisasi yang serba gemerlap itu ada gejala yang dinamakan “the agony modernisation”, yaitu adzab sengsara karena modernisasi.

Kemajuan IPTEK sebagai tulang punggung modernisasi dan industrialisasi tanpa sadar telah terjadi penyalahgunaan sehingga mengakibatkan dampak negatif berupa kerusakan lingkugan hidup (lingkungan dalam arti tata nilai kehidupan). Banyak warga masyarakt yang kehilangan identitas diri, mereka jadi bingung karena proses modernisasi yang mereka jalankan telah menimbulkan ketidakpastian fundamental di bidang hukum, moral, norma, etika dan tata nilai kehidupan.

Ekspansi dan globalisasi kapitaliseme yang merupakan ujung tombak modernisasi barat sekarang ini, tidak hanya mendorong kehidupan yang materrialistik dan hedonistik, tetapi juga mengakibatkan terjadinya intuisi massif kontrol-kontrol administratif rasional dalam sektor kehidupan (Habermas, 19810.

Manusia merasakan kerinduan akan nilai-nilai ketuhanan, nilai-nilai ilahiah. Nilai-nilai berisikan keluhuran inilah yang dapat menuntun manusia kembali kepada nlai-nilai kebaikan yang pada dasarnya makhluk rohani di samping sebagai makhluk jasmani.

Secara teologis, manusia juga sebagai makhluk rohani. Para filosofis Islam mengakui bahwa manusia tersusun dari elemen materi dan immateri. Kedua elemen ini merupakan hasil emanasi Tuhan. Ahli sufi mengakui adanya dualitas dalamdiri manusia, yaitu materi dan immateri. Namun mereka lebih tertarik membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan spiritualitas. Dari segi hubungan dualisme itu, unsur materi memiliki hubungan yang jauh dari Allah, sedangkan unsur immateri memiliki hubungan yang dekat dengan Allah. Karenanya, ruh (immateri) memiliki posisi yang sangat dominan dan menentukan dalam pribadi manusia. Kebahagiaan rohani (immateri) mengungguli kebahagiaan jasmani (materi), kenikmatan yang dirasakan pun mendominasi kenikmatan yang dirasakan oleh jasmani.

Mengingat ruh memiliki fungsi yang sangat dominan dalamdirimannusia maka krisis spiritual bagi manusia menyebabkan terjadinya penyakit jiwa dan dapat menimbulkan berbagai kemudharatan. Di samping itu, krisis spiritual juga akan menurunkan martabat manusia ke jurang kehancuran yang mengancam peradaban dan eksistensi manusia.

Problem spiritualitas bagi manusia modern merupakan hal yang tidak mudah untuk dipecahkan karena manusia modern telah kehilangan keyakinan-keyakinan metafisis dan eskatologis. Sebab manusia modern lahir dari eksistensialisme yang hanya mengakui eksistensi manusia manakala manusia tersebut sudah merdeka. Menurut Auguste Compe, manusia modern adalah mereka yang sudah sampai kepada tingkatan pemikiran positif. Pada tahapan ini, manusia sudah lepas dari pemikiran religius dan pemikiran filosofis yang masih global.

Kefanatikan manusia modern terhadap eksistensialisme dan positivisme membuat mereka menafikan berbagai informasi baik yang bersumber dari kitab suci maupun dari tradisi mistik yang mengatakan bahwa manusia itu memiliki unsur spiritual. Karenanya manusia modern mengalami krisis spiritual.

Demikianlah, modernisme di pandang gagal memberikan kehidupan yang lebih bermakna kepada manusia, karena itu tidak heran jika kemudian orang kembali pada agama (tasawuf) yang memang berfungsi untuk memberikan makna dan tujuan hidup. Modernisme dan modernisasi ternyata telah gagal menyingkirkan agama dari kehidupan masyarakat.

Sejalan dengan kebangkitan tasawuf di dunia Islam adalah tersebarnya ajaran-ajaran sufi di barat. Tasawuf spiritualis-batiniah (sufisme ekstatis, fana’) diperkenalkan pada awal abad ke-19 oleh guru musisi Islam India, Inayat Khan, yang ajarannya kemudian diteruskan oleh putranya Pir Vilayat Inayat Kahan guru bagi kelompok “New Age” semacam Fritjof Copra.

Di Perancis, Tasawuf diterima di kalangan kaum intelektual melalui tulisan-tulisan seorang matematikawan yang berubah menjadi metafisikawan. Rene Gennon yang dikenal sebagai “Syaik Abdul Wahid” (w. kairo 1951), bukunya yang terkenal ialah “The Crisis of The Modern World”.

Pada abad ke-19, 20 dan sampai awal abad ke-21 M ini, terdapat banyak kaum muslimin yang berusaha membangkitkan kembali ajaran-ajaran dan prakterk Islam otentik, bukan sekedar untuk menghadapi nominasi politik dan kultural barat. Untuk membangkitkan warisan Islam, para guru sufi memusatkan perhatian dengan memandang penyebab seluruh kekacauan adalah sikap melupakan Allah.

Para tokoh kontemporer tasawuf fiqh menekankan pengetahuan pemahaman dan diferensiasi. Mereka biasanya menekankan pentingnya amaliah syariat, yang paling populer adalah Fritjof Schan, seorang syaikh Tariqoh Syadzaliyah ‘Alawiyyah Afrika Utara, sekalipun lebih banyak menetap di Swiss dan Amerika serikat dan di kenal juga Sebagai syaikh Muhammad Isa Nurdin.

Selain tersebarnya ajaran-ajaran sufi, dewasa ini juga sudah banyak diterbitkan buku-buku mengenai tasawuf dan kehidupan rohani dalam Islam. Karena banyak di antara kaum terpelajar di barat sekarang ini mau mengakui sumber keislaman tasawuf dan adanya mata rantai yang tak bisa diputuskan antara tasawuf dengan Islam.

Buku-buku karya pemimpin Thariqah sufi Al-Jerrahi di Turki Syaikh Muzaffar Ozak menyuguhkan tasawuf berorientasi syariat yang difokuskan pada cinta dari pada pemahaman intelektual. Syaikh Thariqah Naqsyabandiyah, Syaikh nazim Al Qubrusi menyajikan bahasa menarik tentang sifat-sifat terpuji manusia yang berakar dalam perspektif yang menekankan cinta dan juga menekankan basis Syaikh Tasawuf.

Pemimpin Thariqah Ni’matullahi Iran, Dr. Javad Nur Bakhsh telah menerbitkan buku sampai lengkap tentang teks-teks klasik sufi dalam karyanya berjudul “Sufi Symbolisan” perspektif yang ditempuhnya termasuk dalam kategori Tasawuf Ekstatis (fana’) dengan titik berat pada kebersatuan dengan Allah, karya-karya guru “bawa Muhayaddean lebih menekankan pentingnya sisi cinta dan kenikmatan spiritual dalam tasawuf.

Yang termasuk guru kontemporer adalah Syaikh fadhallah Haeri, M.H Kabbani atau Faisal Abdul Rauf, merekalah sebagian dari yang tetap berjuang untuk menjadi obor sufi ditengahnya kegelapan kehidupan modern dewasa ini.

Di Indonesia sendiri, masyarakat bertasawuf dengan cara mengikuti thariqah-thariqah dan majlis-majlis dzikir yang biasanya dipimpin oleh para guru besar, dan dengan thariqah yang berbeda antara guru yang satu dengan yang lain. Namun tujuannya adalah sama yaitu mendekatkan diri pada Allah. Karena semakin banyak muncul thariqah-thoriqoh yang Baru, yang tidak menyimpang dari syariat Islam.


C. Solusi Tasawuf

Seperti yang telah dilaskan di atas bahwa krisis spiritual yang dialami masyarakat modern adalah mereka tidak mendapati kebanyakan immaterial, kerena pada hakekatnya manusia sebagai makhluk jasmani dan juga makhluk rohani. Walaupun mereka telah mencapai kebudayaan modernitas yang tinggi tetapi tetap saja tidak bisa membuat hidup mereka terasa bermakna. Dan pada akhirnya manusia pun ingin kembali pada agama dan bertasawuf untuk mendapatkan kembali nilai-nilai ketuhanan (nilai-nilai ilahiah).

Tasawuf adalah moralitas yang berdasarkan Islam (adab). Karena itu seorang sufi adalah mereka yang bermoral, sebab semakin ia bermoral semakin bersih dan bening jiwanya. Dengan pengertian bahwa tasawuf adalah moral berarti tasawuf adalah semangat (inti Islam) sebab ketentuan hukum Islam berlandaskan moral Islam. Moralitas yang diajarkan oleh tasawuf akan mengangkat manusia ke tingkatan “Shafa At Tauhid”. Pada tahap inilah manusia akan memiliki moralitas Allah. Tasawuf mampu berfungsi sebagai terapi krisis spiritual.

Sebab pertama, tasawuf secara psikologis merupakan hasil dari berbagai pengalaman spiritual dan merupakan bentuk dari pengetahuan langsung mengenai raalitas-realitas ketuhanan yang cenderung menjadi innovator dalam agama (R.H. Thonless, 1995, 219-220).

Kedua, kehadirat Tuhan dalam bentuk pengalaman mistik dapat menimbulkan keyakinan yang sangat kuat. Ketiga, dalam tasawuf hubungan seorang dengan Allah dijalin atas rasa kecintaan. Allah bagi sufi, bukanlah dzat yang menakutkan, tetapi pengasih, kekal, al-Haq, serta selalu hadir kapanpun dan di manapun. Dia adalah Dzat yang paling patut dicintai dan diabdi.

Manusia memiliki nilai-nilai pencapaian, agar manusia merasa bahagia maka ia harus bisa mencapai nilai-nilai pencapaian tersebut yang ketiganya itu adalah nilai-nilai immaterial, sedangkan nilai-nilai material di antarnya: fisik, karier, sosial, kenangan, kesehatan dan keluarga.

Selama ini masyarakat modern hanya bisa mencapai nilai-nilai materi saja sehingga kebahagiaannya terasa pincang. Oleh karena itu manusia harus bisa mencapai nilai-nilai immaterialnya salah satunya adalah nilai spiritual.

Ada di antaranya 9 nilai-nilai spiritual yang harus dicapai agar manusia merasa bahagia,4 yaitu:

1. Bersungguh-sungguh

Di sini arti bersungguh-sungguh adalah dalam segala hal, yaitu ketika manusia beriman pada Allah, maka ia bersungguh-sungguh. Dan juga dalam melakukan ibadah-ibadah yang lainyya.

2. Bersyukur

Di antara rasa bersyukur seorang manusia adalah dia mengakui bahwa apa yang telah dia dapatkan bukan semata-mata dari usahanya akan tetapi itu adalah pemberian sang pencipta yang maha penyayang.

3. Menghargai waktu

Dengan kita menghargai waktu, maka kita tidak akan menyiakan waktu yang ada. Karena sebenarnya seorang anak manusia bukanlah makin bertambah umurnya, melainkan semakin berkurang umur dan waktunya.

4. Berpikir positif

Manusia harus selalu husnu dzon, bahwa Allah akan selalu memberikan sesuatu yang baik untuknya.

5. SIlaturrahmi

Dengan silaturrahmi, niscaya solusi bagi kesulitan akan ditemukan

6. Berjiwa besar

Orang-orang yang berjiwa besar akan mampu mengendalikan kecerdasan emosionalnya, sehingga kemampuan intelektualnya tidak berbenturan denga nilai-nilai roh sebagai refleksi hati yang fitrah.

7. Belajar dan mengajar

Manusia diperintahkan untuk selalu menuntut ilmu atau menambah ilmu juga mengamalkan atu membagi ilmu yang didapatnya.

8. Tobat

Permasalahan dan persoalan yang muncul ternyata bersumber dari manusia itu sendir. Maka manusia patut untuk selalu meminta ampunan, karena azab dan siksa yang Allah berikan adalah balasan dari kelakuan manusia yang buruk.

9. Do’a

Kita sebagai makhluk patut untuk selalu berdo’a, karena seluruh kekuatan yang kita miliki adalah pemberian Allah, sedangkan manusia hanyalah makhluk yang lemah. Dan doa adalah senjata seorang mukmin, dan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi. (H.R. Al-Hakim).

Selain cara-cara yang telah dijelaskan di atas, ada metode-metode lain dalam tasawuf untuk mengatasi masalah-masalah dalam masyarakat modern yang mengalami krisis spiritual agar masyarakat modern tersebut bisa menemukan kembali nilai-nilai kerohaniannya, yaitu:

a. Tasawuf Akhlaki.5

Yaitu menumbuhkan kembali moral-moral manusia, dengan cara berusaha untuk menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya. Tindakan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dalam mengejar kehidupan duniawi, merupakan tabir penghalag antara manusia dan Tuhan. Sebagai usaha menyingkap tabir yang membatasi manusia dengan Tuhannya, ahli tasawuf membuat suatu sistem yang tersusun atas dasar didikan dan tingkatan.

1.Takhalli, berarti membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dari maksiat lahir yaitu sifat tercela yang dikerjakan oleh anggota dhohir dan maksiat batin yaitu yang dilakukan oleh hati. Serta mengosongkan diri dari sikap ketergantungan terhadap kelezatan duniawi. Manusia boleh memiliki harta benda tetapi tidak boleh menggantungkan hatinya pada harta benda tersebut.

2.Tahalli berarti mengisi diri atau menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sifat serta perbuatan baik. Berusaha agar dalam setiap gerakan perilaku selalu berjalan di atas ketentuan agama, baik kewajiban atau ketaatan lahir seperti shalat, puasa dan lainnya atau ketaatan yang bersifat batin seperti iman, ikhlas dan sebagainya.

3.Tajalli, setelah melakukan tahapan-tahapan di atas maka manusia akan merasa bahwa tidak ada hijab antara dia dengan Tuhannya. Manusia akan selalu merasa dekat dengan Tuhannya, dan nilai-nilai ilahiyahnya pun akan muncul.

Selain itu, untuk melestarikan dan memperdalam rasa ketuhanan, ada beberapa cara yang diajarkan kaum sufi, antara lain:

1.Munajat

Dalam munajat, disampaikan segala keluhan, mengadukan nasib dengan untaian kalimat yang indah seraya memuji keagungan Allah. Ini adalah salah satu bentuk doa yang diucapkan dengan sepenuh hati disertai deraian air mata. Pemusatan jiwa yang diiringi deraian air mata, membuat suasana kontemplasi itu seakan ia sedang berhadapan langsung dengan Allah. Doa dan air mata itulah munajat sebagai manifestasi dari rasa cinta dan rindu kepada Allah. Latihan dengan ibadah seperti itu, adalah cara memperdalam penghayatan rasa ketuhanan.

2.Muraqabah dan Muhasabah

Muqarabah itu merupakan suatu sikap mental yang senantiasa melihat dan memandang, baik dalam keadaan bangun/jaga atau tidur, keadaan bergerak atau diam, pada waktu lapang atau susah, di manapun dan kapanpun senantiasa terasa berhadapan dengan Tuhan.

Kemudian yang dimaksud dengan muhasabah, Imam al-Gazali mengatakan: Hakikat muhasabah ialah selalu memikirkan dan memperhatikan apa yang telah diperbuat dan yang akan diperbuat, dan muhasabah ini lahir dari iman dan kepercayaan terhadap hari perhitungan (hari kiamat).

3.Memperbanyak wirid dan zikir

Dalam sejarahnya, zikir dan wirid mempunyai kaitan yang sangat erat. Dalam prakteknya, wirid dibagi menjadi dua bagian. Pertama, wird ‘amm atau zikr jahri, yaitu wirid dalam bentuk amal lahir menurut beberapa ukuran tertentu, seperti membaca istighfar beberapa kali, kedua, wird khass (zikr sir), yaitu wirid yang dijalankan secara rahasia (tanpa suara) seperti menyebut nama Tuhan, Ya latif, dengan hati.

4.Mengingat Mati

Dengan ingat kepada mati, manusia akan giat beramal dan sebaliknya, apabila manusia lupa kepada mati, maka lupalah ia kepada hari kiamat.

5.Tafakkur

Tafakur berarti memikirkan atau merenungkan. Dalam ajaran Islam kita hanya disuruh memikirkan dan merenungkan makhluk Allah, alam semesta ini dengan segala fenomenanya, kita dilarang untuk memikirkan zat Allah. Dengan memikirkan makhluk Allah dan fenomenanya akan menambah keimanan kita dan merasa bahwa Allah lah zat yang maha Agung.




b.Tasawuf Amali.6

Sebenarnya tasawuf amali ini merupakan lanjutan dari tasawuf akhlak, karena seseorang tidak bisa dekat dengan Tuhan dengan amalan yang ia kerjakan sebelum ia membersihkan jiwanya. Ada beberapa istilah yang merupakan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan tasawuf, sebagai upaya mendekatkan diri pada Allah.

1.Syari’ah, artinya undang-undang atau garis-garis yang telah ditentukan termasuk di dalamnya hukum-hukum halal dan haram yang disuruh dan yang dilarang, yang sunnat, yang makruh, dan yang mubah.

2.Tariqah, dalam melaksanaan syariat tersebut di atas haruslah berdasarkan tata cara yang telah digariskan dalam agama dan dilakukan hanya karena penghambaan diri kepada Allah, perjalanan itu yang dinamakan Thariqah.

3.Haqiqah, adalah aspek batiniah. Diartikan sebagai rahasia yang paling dalam dari segala amal, inti dari syari’ah dan akhir dari perjalanan yang ditempuh oleh seorang sufi.

4.Ma’rifah, diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati (qalb). Pengetahuan itu sedemikian lengkap dan jelas sehingga jiwaya merasa satu dengan yang diketahuinya itu.

Selain cara di atas, beberapa metode bertasawuf untuk mengisi kekosongan spiritual adalah seperti yang telah dijelaskan pada makalah yang berjudul maqamat dan ahwal.

Tetapi cara penerapannya untuk masyarakat modern, bertasawuf bukan menyendiri di tempat yang sepi, tapi lebih kepada bagaimana menerapkan hati dengan proses-proses yang telah dijelaskan di atas.

Misalnya kita bekerja dengan giat bukan berniat untuk mendapatkan harta yang banyak kemudian berbagga diri, akan tetapi berniat untuk mencari ridha Allah, yang kemudian harta yang dimiliki dishadaqahkan pada jalan Allah, sebagai rasa syukur kepada Allah.

Dan tasawuf di sini, lebih berperan untuk memperbaiki moral dan mengembalikan nilai-nilai kerohanian maryarakat modern yang mengalami krisis spiritual.



BAB III

KESIMPULAN


Masyarakat modern dewasa ini tumbuh dari pengembangan kebudayaan Yunani dari pengembangan kebudayaan Yunani Purba, yang kemudian berkembang dalam masyarakat Eropa menjadi canggih dan melahirkan kebudayaan barat yang modern.

Masyarakat modern adalah masyarakat yang dikenal sebagai masyarakat budaya industri. Yang berefolusi dari revolusi ilmu yang kemudian melahirkan revolusi perdagangan dan komunikasi.

Krisis spiritual yang dialami masyarakata modern adalah walaupun dengan tingkat kebudayaan ilmu pengetahuan dan industri yang tinggi masyarakat modern belum mendapatkan makna kehidupan yang sesungguhnya. Sehingga pada akhirnya mereka berusaha kembali untuk mencari nilai-nilai kerohanian yang fitrahnya dimiliki oleh manusia.

Peranan tasawuf dalam mengatasinya adalah dengan tahapan-tahapan dan metode-metode spiritual.



Selain itu, dengan cara-cara lain yaitu:

A.Tasawuf Akhlaqi

1.Takhalli
2.Tahalli
3.Tajalli

Berusaha untuk memperbanyak hal-hal yang mendekatkandiri pada Allah diantaranya:

1.Munajat
2.Wirid dan Zikr
3.Muraqabah dan Munasabah
4. Mengingat Amali

B.Tasawuf Amali

1.Syari’at
2.Thariqah
3.Haqiqah
4.Ma’rifah

Tetapi cara yang diterapkan bukan dengan kita menjauhkan diri dari keduniawian, akan tetapi lebih kepada perbaikan hati dan moral agar kita tidak ketergantungan kepada keduniaan.


1 Sayyid Husein Nasr, Tasawuf Dulu dan Sekarang, Penerjemah Abd. Hadi WM, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991, hlm. 11 (Dikutip dari Pengantar Studi Tasawuf, Dr. Asmaran AS, MA)

2 Dr. Amin Syukur, Tasawuf dan Krisis, Pustaka Pelajar, 2001, hlm. 3

3 Ibid, hlm. 11

4 Dias Dwikomentari, Solution Spiritual Questiont, hlm. 31

5 Dr. Asmaran AS. Pengantar Studi Tasawuf, hlm. 67

6 Ibid, hlm. 95
Title : TASAWUF DAN MODERNITAS
Description : BAB I PENDAHULUAN Berbicara tentang tasawuf, sering timbul pertanyaan, benarkah bahwa hidup secara sufi berarti “melepaskan diri dari d...

0 Response to "TASAWUF DAN MODERNITAS"

Contact me

Isi Pesan*

*wajib diisi